• SMA NEGERI 2 MANADO
  • BERSATU - BANGKIT - BERPRESTASI

Sejarah Singkat SMA Negeri 2 Manado

Sejarah yang Ditempa oleh Perjuangan

SMAN 2 Manado

Sebelum tahun 1960, Kota Manado hanya memiliki satu sekolah menengah atas negeri, yaitu SMA Negeri ABC, dengan 27 kelas yang menjalankan kegiatan belajar pagi dan sore di kawasan Pondol—yang kini menjadi Kantor Wilayah Depdikbud Provinsi Sulawesi Utara. Dari kondisi inilah, sebuah perubahan besar dimulai.

Melalui kebijakan pemerintah, SMA Negeri ABC kemudian dipecah menjadi dua sekolah: SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 2. Keputusan ini ditetapkan melalui Surat Keputusan Kepala Urusan Pendidikan SMA Departemen P dan K di Jakarta tanggal 26 November 1960 Nomor 361/SK.B.II, serta diperkuat oleh Panitia Penyelenggara Urusan PPK Daerah Sulawesi Utara/Tengah tanggal 16 Desember 1960 Nomor 1019/Um/Pan.PPK/60, yang mulai berlaku pada 1 Januari 1961. Sejak saat itu, SMA Negeri 1 menyelenggarakan kegiatan belajar pada pagi hari, sementara SMA Negeri 2 pada sore hari.

Perjalanan SMA Negeri 2 Manado tidak dimulai dengan kemudahan.

Pada tahun 1963, sekolah ini diperintahkan untuk pindah dari Pondol ke Jalan Siswa, menempati sebuah gedung bertingkat yang saat itu masih digunakan oleh pihak militer. Proses perpindahan ini menjadi salah satu fase paling menantang dalam sejarah sekolah. Para siswa harus mengangkut sendiri bangku dan meja dari Pondol menuju Jalan Siswa. Namun setibanya di lokasi, mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa belum ada satu pun ruangan yang dapat digunakan.

Kegiatan belajar pun tetap berlangsung—di bawah pohon.

Upaya untuk menegaskan keberadaan sekolah juga tidak mudah. Papan nama “SMA Negeri 2 Manado” yang dipasang hingga empat kali, selalu diturunkan oleh penghuni gedung. Kondisi bangunan pun sangat memprihatinkan—kotor dan tidak terawat akibat dampak pergolakan Permesta yang belum sepenuhnya usai.

Namun semangat tidak surut. Empat hari kemudian, dua ruangan di lantai dua akhirnya dapat digunakan. Secara bertahap, melalui perjuangan dan ketekunan, seluruh bagian gedung berhasil dikuasai. Setelah satu tahun enam bulan, SMA Negeri 2 Manado sepenuhnya menempati gedung tersebut. Bahkan SMA Negeri 1 yang sebelumnya berada di Pondol kemudian bergabung di lokasi yang sama di Jalan Siswa. Fakta ini menegaskan bahwa SMA Negeri 2 adalah yang pertama menggunakan gedung tersebut.

Perjalanan sekolah ini juga diwarnai oleh kuatnya rasa memiliki dari para alumninya.

Pada tahun 1987, ketika muncul rencana dari Kanwil Depdikbud Sulawesi Utara untuk memindahkan SMA Negeri 2 Manado ke Kayuwatu, Minahasa, para alumni segera bergerak. Mereka membentuk delegasi untuk menemui Kepala Kantor Wilayah Dikbud Sulawesi Utara saat itu, Bapak Bartel Aden. Delegasi tersebut dipimpin oleh Drs. Danni Watti, bersama Letkol Piet Weken, Drs. Franky Maramis, dan Ir. Didi Paendong.

Upaya ini membuahkan hasil. SMA Negeri 2 Manado tetap berada di Jalan Siswa.

Dalam momentum yang sama, berbagai kegiatan seperti reuni dan diskusi juga digelar atas prakarsa Ibu Walikota Bitung yang juga merupakan alumni. Dari sinilah terbentuk badan pengurus alumni sebagai wadah kebersamaan lintas generasi.

Selanjutnya, aspirasi para alumni juga direspons oleh Walikota Manado (yang juga alumni SMA Negeri 2) dengan menyediakan lokasi yang hingga kini digunakan oleh SMA Negeri 2 Manado.

Seiring perjalanan waktu, SMA Negeri 2 Manado tidak hanya berkembang sebagai institusi pendidikan, tetapi juga melahirkan sekolah-sekolah baru sebagai bentuk kontribusi nyata bagi dunia pendidikan di Sulawesi Utara. Hingga kini, tercatat lima “tunas sekolah” yang berasal dari rahim SMA Negeri 2 Manado, yaitu:

  • Filial SMA Negeri 2 Manado di Airmadidi (1963), yang kini menjadi SMA Negeri Airmadidi
  • Kelas Jauh di Girian (1964), yang kini menjadi SMA Negeri Girian
  • Pembukaan SMA Negeri 3 Manado (1974), yang dipimpin oleh Kepala SMA Negeri 2 Manado bersama staf selama 4 bulan
  • Kelas Jauh di Ranomuut (1976), yang kini menjadi SMA Negeri 4 Manado
  • Pembukaan SMA Negeri Kairagi Manado (1985–1987), yang juga dipimpin oleh Kepala SMA Negeri 2 Manado bersama stafnya

Dalam bidang prestasi dan kontribusi, SMA Negeri 2 Manado juga mencatat sejarah penting sebagai pelopor penyelenggaraan PASKIBRAKA tingkat Sulawesi Utara. Perwakilan sekolah, Laurens Kalesaran, terpilih selama dua tahun berturut-turut, diikuti oleh Bert Vroompis pada tahun berikutnya.

Pengakuan terhadap kualitas sekolah juga datang pada tahun 1977, ketika Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah melakukan kunjungan. Dalam kesempatan tersebut, laboratorium SMA Negeri 2 Manado dinilai sangat baik. Bahkan perhatian khusus diberikan pada pengelolaan ternak lebah dan taman anggrek yang menjadi keunggulan tersendiri saat itu.

Semua perjalanan ini tidak lepas dari peran para pemimpin sekolah dan tenaga kependidikan yang telah mengabdikan diri sejak awal berdiri hingga sekarang. Mereka menjadi bagian penting dalam membentuk arah, karakter, dan kekuatan SMA Negeri 2 Manado.

Dari masa ke masa, satu hal tetap sama: semangat untuk bertahan, bertumbuh, dan berkontribusi.

Sejarah ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi yang terus menghidupi langkah ke depan—menginspirasi setiap generasi untuk melanjutkan perjuangan dengan tekad yang sama.

#SmanduBersatuBangkitBerprestasi
“Tekadku Belajar dan Bekerja Keras.”

Komentari Tulisan Ini